Dari Altar Rumah ke Karakter Remaja

Pendidikan Iman Orang tua sebagai Benteng Moralitas di Era Disrupsi Digital

Authors

DOI:

https://doi.org/10.52220/q2jphz54

Keywords:

adolescent morality, digital disruption, family discipleship, moral formation, parental faith education, practical theology, disrupsi digital, formasi moral, moralitas remaja, pendidikan iman orang tua, pemuridan keluarga, teologi praktis

Abstract

This article examines the theological and empirical significance of parental faith education in shaping adolescent moral values amid the intensifying challenges of digital disruption and moral decadence. Drawing upon sociological research on religious transmission, developmental faith theory, and practical theology, this study argues that parental faith formation constitutes the most decisive factor in adolescent moral character development. The digital age, characterized by Zygmunt Bauman’s metaphor of “liquid modernity,” presents unprecedented pressures that dissolve traditional moral boundaries and erode adolescents’ ethical foundations. However, families that intentionally practice faith transmission through consistent relational modeling, shared spiritual practices, and theologically grounded conversation produce resilient moral agents capable of navigating digital culture with integrity. This article employs a qualitative-hermeneutical method, synthesizing theological reflection with empirical findings from religious sociology and developmental psychology. The findings affirm that parents who embody intentional discipleship at home produce morally robust adolescents. The article concludes with constructive proposals for a contextual theology of family faith education in Indonesia.

Abstrak

Artikel ini mengkaji signifikansi teologis dan empiris pendidikan iman orang tua dalam membentuk nilai moralitas remaja di tengah tantangan disrupsi digital dan dekadensi moral yang semakin menguat. Dengan menggunakan penelitian sosiologi agama tentang transmisi religius, teori perkembangan iman, dan teologi praktis, studi ini berargumen bahwa formasi iman oleh orang tua merupakan faktor paling menentukan dalam pembentukan karakter moral remaja. Era digital, yang dicirikan oleh metafora “modernitas cair” Zygmunt Bauman, menghadirkan tekanan yang melarutkan batas-batas moral tradisional dan mengikis fondasi etis remaja. Namun, keluarga yang secara intensional mempraktikkan transmisi iman melalui pemodelan relasional yang konsisten, praktik spiritual bersama, dan percakapan berbasis teologi menghasilkan agen moral yang tangguh. Artikel ini menggunakan metode kualitatif-hermeneutis, memadukan refleksi teologis dengan temuan empiris sosiologi agama dan psikologi perkembangan. Temuan menegaskan bahwa orang tua yang mempraktikkan pemuridan intensional di rumah menghasilkan remaja yang bermoral kuat. Artikel diakhiri dengan proposal konstruktif untuk teologi kontekstual pendidikan iman keluarga dalam konteks Indonesia.

References

Downloads

Published

2025-08-31

Issue

Section

Articles