Bakar Batu sebagai Locus Theologicus

Kearifan Lokal Papua dalam Teologi Pendidikan Kristiani yang Kontekstual

Authors

  • Habel S. J. Rieuwpassa Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Mesias Sorong

DOI:

https://doi.org/10.52220/9k2d4s69

Keywords:

bakar batu, Christian education, contextual theology, local wisdom, Papua, religious moderation, kearifan lokal, moderasi beragama, pendidikan Kristiani, teologi kontekstual

Abstract

Indonesia's religious and cultural plurality presents both a profound challenge and a constructive opportunity for Christian education. This article examines the Bakar Batu tradition of Papua as a theological source for Christian education in a pluralistic society, engaging constructively with Indonesia's religious moderation framework. Drawing on qualitative library research within the contextual theology paradigm developed by Robert Schreiter and Stephen Bevans, this article argues that Papuan indigenous wisdom constitutes an authentic locus theologicus, that is, a site where divine truth may be discerned and integrated into educational practice. The Bakar Batu tradition, which embodies values of communal solidarity, reconciliation, and inclusive humanity, provides a pedagogical model that is both theologically grounded and contextually responsive. Four integrative principles are proposed: contextual inculturation, dialogical pedagogy, reconciliatory praxis, and civic spirituality. This research contributes to the decolonial theological discourse of Indonesian Christianity and offers a framework for nurturing a moderated Christian identity within the nation's pluralistic common life.

Abstrak

Kemajemukan agama dan budaya Indonesia menghadirkan tantangan mendalam sekaligus peluang konstruktif bagi pendidikan Kristiani. Artikel ini mengkaji tradisi Bakar Batu Papua sebagai sumber teologis bagi pendidikan Kristiani dalam masyarakat majemuk, dengan terlibat secara konstruktif dalam kerangka moderasi beragama Indonesia. Melalui metode penelitian pustaka kualitatif dalam paradigma teologi kontekstual yang dikembangkan Robert Schreiter dan Stephen Bevans, artikel ini berargumen bahwa kearifan lokal Papua merupakan locus theologicus yang autentik, yakni ruang di mana kebenaran ilahi dapat dikenali dan diintegrasikan ke dalam praktik pendidikan. Tradisi Bakar Batu, yang mewujudkan nilai-nilai solidaritas komunal, rekonsiliasi, dan kemanusiaan inklusif, menyediakan model pedagogis yang kokoh secara teologis dan responsif secara kontekstual. Empat prinsip integrasi dirumuskan: inkulturasi kontekstual, pedagogi dialogis, praksis rekonsiliatoris, dan spiritualitas kewargaan. Penelitian ini berkontribusi pada diskursus teologi dekolonial kekristenan Indonesia dan menawarkan kerangka pembentukan identitas Kristiani yang moderat dalam kehidupan nasional yang majemuk.

References

Downloads

Published

2026-02-24

Issue

Section

Articles